Kamis, 27 Agustus 2020

 

 

 

KONTRAK PERKULIAHAN

Nama Mata Kuliah             : KOMUNIKASI

Kode Mata Kuliah              : COM 101

SKS                                   :   3

Pengajar                             : Rostini Anwar., M.I.Kom

Semester                            : 7/2019

Tahun

2019

Hari Pertemuaan/jam

Kamis, 13.00 – 14.40

Tempat Pertemuan

Kelas A IK

 

1.    MANFAAT MATA KULIAH

 

Mata kuliah Komunikasi ini bagi mahasiswa semester 7 menjadi mengetahui dan memahami hal-hal  yang menjadi salah satu dasar skill  di  jurusan  yang mereka ambil  ini.  Diharapkan mahasiswa dapat melakukan upaya pencegahan miss communication yang berdampak pada masalah-masalah komunikasi dengan mengetahui pentingnya ilmu komunikasi dan penerapannya khususnya dalam ranah pustakawan.

Oleh karena itu, mata kuliah ini ditawarkan untuk membantu mahasiswa agar  mengetahui  tentang  dasar-dasar  komunikasi  baik  ruang  lingkup,  tujuan, unsur-unsur hingga jenis-jenis komunikasi.

 

2.   DESKRIPSI PERKULIAHAN

 

Mata kuliah Komunikasi merupakan mata kuliah wajib yang diselenggarakan  pada semester 7  di  Prodi Ilmu Perpustakaan dan Informasi FISIP Universitas Cenderawasih.   Materi   bahasan   mata   kuliah   ini   meliputi pengenalan dasar komunikasi sebagai ilmu dan bagian dari ilmu sosial, ruang lingkup dan tujuan ilmu komunikasi, unsure-unsur dan model komunikasi, serta proses komunikasi dalam kehidupan manusia. Perkembangan kajian komunikasi dalam berbagai sudut pandang meliputi; komunikasi personal, komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi publik, komunikasi organisasi, dan komunikasi massa. Pengembangan materi dari kuliah ini disampaikan dalam pertemuan sebanyak 13 kali.


 

4.    CAPAIAN PEMBELAJARAN

 

Pada akhir perkuliahan ini, Anda diharapkan dapat:

 

a.  Mahasiswa mampu menjelaskan konsep dasar dan mendeskribsikan proses komunikasi dalam kehidupan manusia yang meliputi; komunikasi personal, komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi publik, komunikasi organisasi, dan komunikasi massa dalam ranah kerja pustakawan.

b. Mahasiswa mampu menganalisa proses komunikasi dalam lingkup kerja di perpustakaan dan pelayanan informasi dengan mengkaitkan pada konsep dasar komunikasi yang telah dipelajari

 

c. Mahasiswa mampu mengaplikasikan pemahaman mengenai ilmu komunikasi dalam lingkup kerja pustakawan dan pelayanan informasi.

 

 

5.    STRATEGI PERKULIAHAN

 

Strategi Perkuliahan : menggunakan  metode  Student Centre Learning (SCL) yang disesuaikandengan materi kuliah dengan capaian pembelajaran, antara lain kuliah ceramah disertai diskusi (tanya jawab), pembentukan kelompok Small Group     Discussion     (SGD)     selanjutnya           pemberian     tugas     mandiri maupun   tugas   kelompok   dengan   cara   menelusuri   internet,   Surat   kabar, majalah,   dan   Journal.   Membahas   isu-isu   yang   sedang   berkembang   dan mencari   alternatif  dengan   cara   rrempresentasikan   topik   tersebut   dan   hasil dibahas bersama.

Mata Kuliah Komunikasi merupakan materi dasar dan wajib bagi seorang calon pustakwan jadi banyak   bersifat   memberi   pengertian   dan   menuntut   mahasiswa   mampu menjelaskan.   Metode   diskusi   diberikan   ditengah   dan   menjelang   akhir perkuliahan tidak menutup kemungkinan dilakukan di awal perkuliahan.   Penyusunan   tugas   makalah   per   individu   juga   diberikan   ke mahasiswa, agar mereka lebih menguasai materi.

 

 

 

6.    MATERI / BACAAN PERKULIAHAN

 

1.   Hafied    Cangara,    Hafied,    (2002),    Pengantar    Ilmu    Komunikasi, RajaGrafindo Persada, Jakarta.

2.   Rakhmat, Jalaluddin, (2000), Psikologi Komunikasi, Remaja Rosdakarya, Bandung.

3.   Uchjana  Effendy,  Onong,  (2005),  Dimensi  –  Dimensi  Komunikasi, Alumni, Bandung.

4.   Rumani, Assumpta, (2002), Dasar-Dasar Public Relations: Teori dan

 

Praktik, Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta

 

5.   Tubbs,  Steward,  dan    Moss,  Sylvia,  (2001),  Human  Communication: Prinsip-Prinsip Dasar, Remaja Rosdakarya, Bandung.

Minggu, 23 Agustus 2020

 PRODUKSI SIARAN RADIO

PERTEMUAN 1 dan 2 

DASAR-DASAR SIARAN RADIO 

Siaran radio hakikatnya adalah “seni berbicara” (art of talking) di depan mikrofon ruang siaran radio.

Siaran radio disebut juga ”Teknik DJ” (DJ’s technique) ketika penyiar memadukan pemutaran lagu dan pembicaran dalam sebuah program musik.

PENYIAR (announcer) adalah ujung tombak radio. Mewakili radio, ia berinteraksi langsung dengan pendengar. Baik-buruk siarannya –bahkan perilakunya—berpengaruh terhadap baik-buruk atau integritas radionya.

Sukses tidaknya sebuah acara ditentukan oleh penyiarnya. Penyiar harus menguasai Dasar-Dasar Siaran Radio (Basic Announcing) sehingga tidak asal siaran atau “asal cuap”.

Penyiar harus terampil membawakan program siaran, menyajikan produk komersial, menyiarkan berita atau informasi, pewawancara, pemandu diskusi, penyaji acara quiz, dan narasi suatu naskah.

Pengertian Penyiar

Dalam bahasa Inggris, penyiar disebut announcer (arti harfiyah: orang yang mengumumkan), yakni  mengumumkan sesuatu melalui radio.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penyiar adalah orang yang menyiarkan atau penyeru pada radio.

Penyiar radio juga disebut DJ (Disk Jockey), yakni perangkai lagu karena ia menyajikan lagu-lagu dan “bersuara” sebagai “link” atau perangkai antarlagu.

Suara dan pembicaraan penyiar –jika “pas” dengan lagu-lagu yang diputar– akan menambah kenikmatan pendengar dalam mendengarkan lagu.

Syarat Jadi Penyiar Radio

Berikut ini kualifikasi atau syarat menjadi penyiar radio:

  1. Memiliki suara “standar” –diperindah (golden voice) dengan teknik vokal.
  2. “Suka Ngomong/Ngobrol” dan Lancar Berbicara.
  3. Memiliki Sense of Music, suka musik/lagu.
  4. Berwawasan Luas, suka membaca, haus informas dan ilmu.
  5. Humoris, memilik sense of humor.
  6. Suka bergaul, luwes, fleksibel, sociable.
  7. Ramah, friendly.
  8. Naturalness, bersuara alami, tidak dibuat-buat.
  9. Berjiwa entertainer, selalu berupaya menyengkan pendengar.
  10. Adaptabilty, siap bekerja sama dengan team work.
  11. Vitality, cheerful, bersemangat dan selalu ceria.

Keterampilan Siaran: Announcing Skills

1.  Teknik Vokal

Teknik vokal artinya teknik memproduksi suara atau mengeluarkan suara (berbicara) dengan baik, enak didengar, jelas, dan “indah” (merdu). Teknik vokal akan menghasilkan suara terbaik.

Unsur Teknik Vokal

  • Artikulasi (kejelasan huruf/kata).
  • Pernafasan, termasuk pengaturan “jeda” (pause) dari per kalimat.
  •  Aksentuasi (stressing/penekanan kata/kalimat tertentu).
  • Intonasi (nada bicara)
  • Phrasering (pemenggalan kalimat)
  • Tempo (speed, kecepatan)
  • Pace/Pacing – “langkah” atau  “ketukan” konstan dalam berbicara
  • Inflection –perubahan nada suara.

2.  Air Personality

Kepribadian di udara, yaitu attitude (sikap) dan gaya berbicara sesuai dengan format radio, format acara, dan gaya siaran (ceria, serius, humoris).

3.  Visualization

Visualisasi, membayangkan pendengar sebagai seorang teman dekat dan ada di depan meja siaran sehingga tercipta suasana hangat dan akrab


Teknik Siaran Radio: Seni Berbicara

Siaran radio hakikatnya adalah “seni berbicara” (art of talking) di depan mikrofon ruang siaran radio. Disebut juga ”Teknik DJ” (DJ’s technique) ketika penyiar memadukan pemutaran lagu dan pembicaran dalam sebuah program musik.

Dalam program musik, tugas penyiar adalah mengisi link antarlagu yang diputar, misalnya dengan obrolan, membacakan SMS, menerima telepon (ngobrol dengan pendengar), memutarkan iklan, menyampaikan informasi, komentari lagu, dan sebagainya.

Dalam program demikian, penyiar biasanya menggunakan teknik siaran berupa ”posting your vocal”, yakni seni berbicara (the art of talking) saat lagu sudah diputar, selama intro lagu, hingga vokal penyanyi terdengar –mulai bernyanyi.

Kaidah Siaran Radio

1. Visualisasi: Talk to One Person!

Berbicara kepada seorang pendengar. Kaidah ini berbunyi: “Bayangkan Anda sedang berbicara pada ’seorang pendengar’ yang sekarang sedang duduk di hadapan Anda!”

2. Smile!

Senyum. Kaidah ini berbunyi: “Senyumlah! Meskipun Anda tidak bisa melihat orangnya, akan tetapi dari suaranya Anda akan bisa menduga apakah ia sedang tersenyum atau tidak. Cobalah membuktikannya dengan teman!”

Teknik Siaran Radio

Secara “teoritis” ada dua teknik siaran dan dengan teknik inilah umumnya seorang penyiar bekerja atau melaksanakan tugasnya:

1. Ad Libitum.

Teknik siaran tanpa naskah, berbicara santai, enjoy, tanpa beban atau tanpa tekanan, sesuai dengan seleranya (ad libitum means to speak at pleasure, as one wishes, as one desires).

2. Script Reading.

Teknik siaran dengan mengunakan atau membaca naskah siaran (script).


 TEKNIK REPORTASE 

PERTEMUAN 1-2 

Pengertian Reportase

Reportase artinya pemberitaan atau pelaporan. Dari kata “report” yang artinya “melaporkan” atau “memberitakan”.

Reportase berasal dari kata reportage (Inggris). Mirriam Webster Dictionary mengartikan reportage sebagai “the act or process of reporting news” (aksi atau proses pemberitaan) dan “something (as news) that is reported” (sesuatu yang dilaporkan”.

Kamus Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan reportase sebagai “pemberitaan”, “pelaporan, dan “laporan kejadian (berdasarkan pengamatan atau sumber tulisan).


Laman Glosarium mengartikan reportase sebagai “proses pengumpulan data yang digunakan untuk penulisan karya jurnalistik”.

Ensiklo mendefinisikan reportase sebagai berikut: reportase adalah aktivitas atau kegiatan dari reporter/jurnalis untuk turun ke lapangan melakukan observasi langsung dan tidak langsung, mengumpulkan fakta-fakta dan data mengenai sebuahperistiwa/isu yang sedang terjadi, lalu merangkainya menjadi sebuah bahan laporan/tulisan.

Dalam konteks jurnalistik, reportase adalah proses pengumpulan data untuk menyusun berita. Reportase bisa dikatakan merupakan proses jurnalistik terpenting karena dari proses inilah terkumpul bahan-bahan atau informasi untuk diberitakan.

Reportase adalah proses mengumpulkan data dan fakta sebuah peristiwa sebagai bahan penulisan atau penyajian berita di media massa.

Teknik Reportase

Teknik Reportase ada tiga:

1. Observasi

Teknik reportase observasi (pengamatan) yaitu wartawan langsung datang ke lokasi kejadian, mengamati, dan mengumpulkan data atau fata kejadian tersebut mengacu pada formula 5W1H.

Pengamatan merupakan teknik reportase dengan cara mengamati baik setting maupun alur sebuah peristiwa di lapangan atau lokasi kejadian. Wartawan menggunakan semua indera saat melakukan pengamatan. Dengan terjun langsung ke lapangan, reporter akan merasakan langsung peristiwa yang terjadi di lapangan sehingga ia bisa menyampaikan informasi yang valid kepada pembaca.

2. Wawancara

Wawancara adalah proses reportase dengan cara bertanya kepada narsumber untuk menggali informasi atau keterangan.  Narasumber dalam wawancara bisa pengamat, pelaku, saksi, korban, dan siapa pun yang memiliki informasi.

Wawancara merupakan bentuk reportase dengan cara mengumpulkan data berupa pendapat, pandangan, dan pengamatan seseorang tentang suatu peristiwa. Orang yang menjadi objek wawancara disebut narasumber.

Unsur berita 5W1H menjadi pertanyaan yang wajib dalam sebuah wawancara. Rumus ini digunakan untuk mengetahui jalan sebuah peristiwa yang hendak reporter jadikan berita.

Narasumber dalam wawwancara terbagi dua, yaitu narasumber primer (narasumber yang paling tahu dan memiliki peranan penting dalam sebuah peristiwa) dan narasumber sekunder (narasumber yang keterangannya hanya berfungsi untuk melengkapi atau mendukung).

Selengkapnya: Teknik Wawancara Jurnalistik

3. Riset Data

Disebut juga studi literatur dan riset dokumentasi, yaitu wartawan membuka-buka arsip, buku, atau referensi terkait dengan berita yang akan ditulisnya.

Dalam memilah bukti, semua indera kita harus terlibat untuk memilah mana yang berarti dan tidak berarti untuk mendukung suatu peristiwa.

Riset data termasuk mencari latar belakang informasi yang bisa memperkaya sebuah tulisan atau berita.

News Processing: Proses pembuatan berita

Reportase adalah bagian dari proses pembuatan (news processing), yaitu tahap kedua (news hunting, news gathering). Proses pembuatan berita biasanya dimulai dari rapat redaksi.

Dalam rapat redaksi, para wartawan bisa mengajukan usulan-usulan topik liputan. Usulan itu sendiri bisa berasal dari berbagai sumber.

Misalnya: Undangan liputan dari pihak luar, konferensi pers, siaran pers, berita yang sudah dimuat atau ditayangkan di media lain, hasil pengamatan pribadi si jurnalis, masukan dari narasumber/informan, dan sebagainya.

Proses Pembuatan Berita meliputi:

1. News Planning, Perencanaan Berita.

Dalam tahap ini redaksimelakukan Rapat Proyeksi, yakni perencanaan tentang informasi yangakan disajikan. Acuannya adalah visi, misi, rubrikasi, nilai berita, dankode etik jurnalistik.

Dalam rapat inilah ditentukan jenis dan tema-tematulisan/berita yang akan dibuat dan dimuat, lalu dilakukan pembagiantugas di antara para wartawan.

2. News Hunting, Pengumpulan Bahan Berita.

Inilah tahap reportase. Setelah rapat proyeksidan pembagian tugas, para wartawan melakukan pengumpulan bahan berita, berupa fakta dan data, melalui peliputan, penelusuran referensiatau pengumpulan data melalui literatur, dan wawancara.

Tahap reportase ini disebut juga “pengumpulan berita” (news gathering), yakni pengumpulan bahan berita.

3. News Writing, Penulisan Berita.

Setelah data terkumpul, wartawan menulis naskah berita atau melaporkannya di media tempat ia bekerja. Wartawan televisi dan radio bisa melaporkannya secara live.

Berita yang baik harus memenuhi unsur berita 5W+1H

  1. What – Apa yang terjadi, acara apa, peristiwa apa.
  2. Who – Siapa pelaku, korban, penyelenggara, atau yang terlibat dalam peristiwa.
  3. Where – Di mana kejadiannya (lokasi, tempat)
  4. When – Kapan terjadinya (waktu, hari, tanggal)
  5. Why – Kenapa terjadi (latar belakang, penyebab, pemicu, tujuan acara)
  6. How – Bagaimana kejadiannya (proses, detail, suasana, dll.)

4. News Editing, Penyuntingan Berita

Naskah berita yang sudah ditulis disunting dari segi redaksional (bahasa) dan isi (substansi). Dalam tahap ini dilakukan perbaikan kalimat, kata, sistematika penulisan, dan substansi naskah, termasuk pembuatan judul yang menarik.

Di media cetak (suratkabar, tabloid, majalah), penyuntingan juga termasuk “pemotongan” (cutting) untuk menyesuaikan panjang naskah dengan space atau kolom yang tersedia.

Contoh Reportase: Meliput Seminar

Wartawan datang ke lokasi seminar. Di sana ia mengamati jalannya acara, jumlah hadirin, materi pembicaraan, mengambil makalah (jika ada), mengambil foto/memotret (jika tidak ada fotografer), lalu wawancara panitia, narasumber, dan peserta jika diperlukan.

Pengumpulan data untuk naskah berita meliputi 5W+1H yang merupakan Unsur-Unsur Berita sebagaimana sudah dijelaskan di atas.

Demikian ulasan ringkas tentang pengertian, teknik, dan contoh reportase jurnalistik


Program Studi Ilmu Perpustakaan FISIP Uncen Gelar Seminar Internasional Bertajuk “Challenges and Developments in Library and Information Sci...